KKN Desa Penari Film Yang Sabar Dinanti, sebuah Penilaian sederhana

Film ini diadaptasi dari cerita horor yang viral di twitter di tahun 2019 lalu, namun sayang waktu itu saya kurang tertarik untuk mengikutinya jadi sebenarnya ga tau kisah kkn desa penari ini, selain mahasiswa yg kkn ke desa penari dan di ganggu hantu hantuan segitu saja. makanya ketika bermunculan postingan yg kecewa dengan film ini karena  ga sesuai dengan kisah awal saya sih biasa aja, ga terpengaruh karena memang ga tau kisah di twitter seperti apa.

Harus di pahami ketika kita membaca sebuah cerita baik novel atau buku cerita maka imajinasi dari kisah tersebut adalah imajinasi pembacanya, dan setiap orang akan mengalami pengalaman imajinasi yg berbeda. Sedangkan jika kita menonton film maka adaptasi imajinasi adalah milik sang sutradara yaitu imajinasi milik Awi Suryadi. Protes pembaca seperti ini bukan yg pertama, waktu pertama kali Hary Potter difilmkan banyak pembaca setia protes karena merasa tidak sesuai dgn imajinasi para pembacanya.

Saya tertarik nonton film ini karena beberapakali komunikasi melalui kolom komentar sosial media Awi Suryadi kenapa ga di tayangkan di OTT ?  seperti netflix, hotstar dll daripada nunggu lama  -waktu itu pertengahan pandemi yg gatau akan selesai.

“Awi Menjawab bahwa film ini disiapkan untuk ditonton di bioskop, semua element nya di sesuaikan dengan pengalaman menonton di bioskop. ”

ok baiklah kalau bgtu saya berasumsi bahwa akan di suguhi tontonan Audio Visual yang keren.

Saya tinggal di sukabumi, disini ada bioskop lokal namun penilaian saya sisi audio di bioskop ini masih kurang  greget sehingga saya pergi 120 Km ke salah satu bioskop di Bandung dan dapatlah tiket secara online di CGV, hanya ingin membuktikan bahwa film ini benar2 disiapkan untuk tayang dibioskop.

#cerita 8.5 dari 10

Alur cerita di film ini lambat memanas, stengah film awal di suguhi kejadian2 yang menggambarkan horrornya desa ini tp ga tau mau dibawa kemana, yg lama kelamaan membuat saya tertarik untuk mainin hp dulu karena ada beberapa notif di hp yg ganggu dan gatel untuk di balas.

  • tangisan Bima ke Nur atas kesalahan yg di perbuatnya hanya membuat bingung apalagi bagi penonton asing yg jauh dari adat ketimuran, “Bima ko bisa segitunya nangis gara2 itu aja,” alasan tangis bima ini yg kurang saya dapatkan dicerita ini.
  • Namun setelah stengah durasi berlalu saya mulai terikat dan faham arah cerita akan kemana.

#Visual & Editing 9 dari 10

Secara visual film ini luar biasa indah dan sekaligus mengerikan menggambarkan kondisi alam di desa Penari ini. duet Mas Rahmat Saiful dan Mba Angela juga berhasil menggambarkan ini film mahal :p ga banyak komentar soal ini. Jumpscare yang di tampilkan juga g murahan, ga seperti film horor yg biasa aaja dengan rumus ngagetin dgn tiba penampakan hatu serem dan musik kanget. jahitan antar scene bgtu matang dan apik, terlihat tim editing ini bekerja dgn santai ga terlalu tergesa2.

#Audio 9 dari 10

Nah ini yg berbeda dgn film lainnya, setiap detil adegan akan selalu ada bisik2 efek suara yg muncul entah itu langkah kaki, atau suara2 yg kecil yg klo ga ada pun penonton ga bakalan ngeh. tebakan saya ini hasil kerja Foley Artis nya MD yg bekerja menciptakan suara2 di film. inilah yang membuat saya ga nyesel jauh2 datang ke bioskop demi dengerin bunyi2an dari film ini, mungkin bioskop dengan dolby Atmos akan lebih seru.

Liputan Folley Artis CNN Indonesia

#Makeup 6 dari 10

Secara keseluruhan tiap departemen di film ini bekerja degn baik dan bahu membahu membuat film ini jadi lebih menarik, tp ada satu hal yang membuat saya memberikan penilaian kurang yaitu MakeUp departement,  terutama bagian spesial effect makeup artisnya atau makeup hantu2an disalah satu scene yg menggambarkan warga desa (hantu) mengelilingi Widya dengan menari. disitu digambarkan wajah mereka penuh dengan darah dgn wajah rusak.

ilustrasi
Ilustrasi
  • Tidak ada yg salah dengan makeupnya tp makeup ini seperti hantu2 korban kecelakaan yg di ceritakan di film2 hantu indonesia padahal ga ada diceritakan warga desa ini kecelakaan atau kena amukan gunung meletus misalnya.
  • Spesial efek makeup nya terlihat terlalu “murah” untuk film dgn budget 15M bahkan ini seperti makeup untuk sinetron hantu2an.
  • tidak ada yg salah dengan spesial effect makeup nya tp ini adalah pilihan yang di ambil oleh produser dan sutradaranya untuk memilih ini sebagai makeup effectnya walaupun imajinasi saya akan lebih seru dan seram jika warga desa dengan makeup wajah dengan bantuan cgi akan menjadikan kreasi makeup effect yg tak terbatas.

    Mba Asih

 

 

 

 

 

 

 

#Keseluruhan 8.5 dari 10

Secara keseluruhan film ini cukup baik, MD dikenal dengan tim produksi yg solid dan menjadikan film indonesia ter pabrikasi dengan baik, bahkan saya bisa menilai sutradara cukup teriak cut and action aja bisa bikin film produksi MD selesai degan baik. dan ini menjadikan peran sutradara lebih ringan dan bisa fokus ke sisi kreatif di filmnya.

Awi Suryadi sudah ada di radar film saya sejak film Danur. dan Awi Suryadi berhasil membuat saya mau nonton ke bioskop sejauh ratusan km hanya untuk menonton filmnya,

Ads

 

 

Facebook Comments

Latest articles

174,1k Pengikut
Mengikuti

Related articles

1 Comment

  1. Wah, memang sound di Moviplex Sukabumi kurang greget untuk film-film seperti ini. Salut langsung tancap gas ke Bandung.

    Kalau saya sudah notice Awi Suryadi sejak Street Society (2014) dan Badoet (2015). Malah kalau untuk Danur saya kurang suka.

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini